- Back to Home »
- Lucky Girl
Posted by : Overload INA
November 29, 2013
Gadis Beruntung
Edited By: Viola
“AAAAAAAA!!!!”
itulah yang ku dengar selama beberapa hari ini. Namaku Aya, aku magang sebagai
penjual tiket konser. Sebenarnya aku sudah mulai terbiasa oleh jeritan-jeritan
dari para fans, tapi kali ini mereka membuatku muak. Sebenarnya dari
teriakan-teriakan mereka yang melengking saja sudah membuatku muak, ditambah
dengan sikap mereka jang kurang hajar.
“MBAK!
Yang membagikan tiket VIP dimana sih? Katanya dekat pintu masuk, tapi kok gak
ada?” bentak seorang fans “mbak, di situ tulisannya dekat pintu masuk gerbang
C. Ini gerbang A” jawabku menahan amarah. “oh” balasnya langsung
meninggalkanku. “cih.. dia yang salah, dia yang marah” keluh ku kebada salah
satu teman magangku Lia “sabar saja lah Ay, sehabis boyband ini konser juga
orang-orang ini menghilang” balas Lia berusaha menenangiku “lama-lama aku bosan
bekarja seperti ini” aku mengeluh lagi “yaaa... setidaknya para personel
boyband ini keren-keren lah” jawab Lia memandangku genit. Sejujurnya aku lupa
boyband apa yang akan tampil besok, tapi aku tidak peduli karena aku bukan
penggemar berat boyband.
*beep
beep* bunyi sms dari hpku. “hmm.. nomor tidak dikenal? Siapa ya?” tanyaku dalam
hati.
Dari:
nomor tidak dikenal
Pesan:
“Ay! Temui aku di pintu masuk F! Sekarang!!”
“Li, apakah kamu mengirim SMS kepadaku?”
tanyaku pada Lia “tidak, kenapa?” jawab lia bingung “ah.. ini.. ada nomor tidak
dikenal sms aku” jelasku pada Lia “mungkin Tanya, dia bilang kalau baterai
hpnya habis tadi” jawab Lia. “oh oke” balasku lalu pergi ke pintu masuk F. Saat
aku sampai sana, tidak ada siapa-siapa di sana, gerbang itu memang sudah lama
rusak dan tidak dipakai.
“AY!!”
kata seorang cowok tinggi berambut coklat dan agak megar sambil menepuk pundak
ku yang membuatku sedikit kaget. “ingat aku?” kata cowok itu “ya.. bagaimana
aku melupakanmu?” kataku sedikit judes “benarkah?” katanya “ya Ry” kataku
sambil membuang muka “Aku tau kau marah Ay, tapi tolong dengarkan aku sebentar
saja” kata Ryan dengan muka merasa bersalah. Aku menahan tangisanku tapi
tidaklah kuat, aku menangis sambil memukul-mukul dadanya “kau pikir ini sakit?
Yang kau lakukan padaku itu lebih menyakitkan Ry!!” tangisku sambil terus
memukuli dadanya “kau berha marah dan aku tau yang ku lakukan padamu itu salah
Ay. Tapi aku minta maaf. Sekarang aku kembali untuk memperbaiki kesalahanku”
Ryan berkata kepadaku sambil memelukku. Kulepas pelukannya “maaf? Kau
menghilang selama 7 bulan dan kembali hanya dengan kata maaf? Bahkan aku tidak
tau apakah hubungan kita saat ini” bentakku “aku tau maaf tidak akan
menyelesaikan segalanya, itu sebabnya seperti yang kubilang tadi, aku kembali
untuk memperbaiki segalanya” ryan menjelaskan “aku tidak tau Ry, apakah ini
bisa berlanjut atau tidak. Tapi sepertinya kita harus mengakhiri semua ini”
kataku sambil pergi meninggalkan Ryan sendiri. Aku menghapus air mataku dan
kembali ke Lia.
“hey,
kau tidak apa?” tanya Lia heran “ya, hanya kelilipan debu saja” jawabku
berbohong. Aku tidak pernah menangisi cowok sebelum ini, itu sebabnya aku
berbohong. Kuhabiskan sisa hariku memikirkan Ryan.
*******
*kring!! Kring!!* teleponku berbunyi. “ya?”
jawabku masih setengah tidur “AY!! Kemana saja sih kau?? Di sini ramai sekali?
Kau bolos kerja ya? Tolong aku.. Tanya dan Tasya tidak masuk hari ini. Aku kerepotan
sekali di sini mengatur para fans yang susah diatur!!” keluh Lia yg terdengar
kerepotan “iya Li, aku akan segera kesana” balasku lalu mematikan telponnya.
Kulihat ada 5 sms mas
Dari:
Joey
Pesan:
“tebak siapa yang sedang berkunjung pulang?”
----------------------------------------------------------------------
Dari:
Joey
Pesan:
“Aku!!”
----------------------------------------------------------------------
Dari:
Joey
Pesan:
“hmm.. masih tidur ya? Hahaha.. selamat tidur ya”
----------------------------------------------------------------------
Dari:
Ryan
Pesan:
“maafkan aku, aku harap kita bisa membicarakan hal ini lagi”
----------------------------------------------------------------------
Dari:
Ryan
Pesan:
“temui aku di tempat kemarin”
----------------------------------------------------------------------
Sial,
aku harus berangkat kerja dan Ryan ada di sana! Tapi lihat sisi baiknya, Joey
sudah kembali. Aku sangat meridukannya semenjak dia pergi ke London untuk suatu
hal. Joey adalah sahabatku sejak kecil. Tapi anehnya aku tidak pernah
membicarakan Ryan dengannya. Masalahnya aku dan Ryan memang pacaran diam-diam,
jadi tidak ada yang tau tentang kami. Aku siap-siap dan pergi ke tempat Lia dan
mengabaikan pesan dari Ryan.
“maaf
Li! Tadi aku tertidur” kataku pada Lia “ya, ya, ya.. sekarang bantu aku bagikan
selebaran ini” kata Lia sambil memberikanku setumpuk selebaran. Tidak lama
setelah itu aku merasa ada seseorang menarikku dari belakang dan membawaku ke
balik pohon besar.
“Aya!!
Senang bertemu denganmu lagi!!” kata seorang cowok tinggi dengan rambut hitam
memelukku “JOEY!!” kataku sambil memeluknya balik “apa yang kau lakukan di
sini?” tanya Joey “aku bekerja di sini” kataku “di sini?” “ya! Hey, bagaimana
London? Dan apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku “aku? Aya....” “Aya!!”
teriakan Lia memotong kata-kata Joey “maaf, aku harus pergi, senang bertemu
denganmu lagi Joey” kataku lalu pergi. “dari mana saja kau Ay?” tanya Lia “aku
tadi.....” “sudah-sudah jangan banyak alasan. Ini, bagikan dekat kamar mandi”
sekali lagi Lia memotong ucapanku dan memberiku setumpuk kertas.
Aku
membagikan selebaran di dekat kamar mandi lalu tiba-tiba seseorang menabrakku
dari belakang membuatku menjatuhkan semua selebaran yang ku pegang. “hey!!
Hati-hati dong!!” kata seorang cewek berambut pirang “maaf tapi bukankah mbak
yang menabrak saya?” kataku marah “hey! Awas bicaramu!” balasnya “Calvi sudah
hentikan!” kata seorang cowok memakai caket kuning dan menggunakan kapucon
menutupi kepalanya. Cewek itu pun akhirnya pergi. “maafkan dia, dia hanya
gugup” kata cowok itu membantuku memungut kertas-kertas yang jatuh. “ya ya ya”
jawabku masih kesal. “namamu?” tanya cowok itu “ha?” kataku kurang nyambung
“siapa namamu?” katanya sekali lagi “oh.. Aya” kataku kalem “ini kertasmu...
aya” kata cowok itu “oh ya, aku jordi” katanya dengan senyum besar dan
kapuconnya copot sehingga aku bisa melihat rambut pirangnya yang mirip Justin
Bieber. “AAAAA!!!” teriak seseorang fans sambil menunjuk ke arah ku.
Jordi
menarik lenganku masuk ke dalam gedung dan memasuki suatu ruangan. Aku masih
berusaha bernafas jadi tidak melihat sekita ruangan. Saat ku lihat “Ha?” Joey?
Ryan? Mereka.. bagaimana bisa ada di dalam sini? “maaf guys, dia kubawa kesini
karena kita dikejar fans” jelas Jordi pada yang lain “Aya?” Ryan menyadari
keberadaanku di ruangan “hah? Kamu kenal dia?” tanya Joey ke Ryan “ya..
dia.................kenalanku” jawab Ryan takut mengatakan bahwa aku ini
pacar/mantannya. “kau kenal dia?” tanya Jordi kepadan Joey “ya, dia sahabatku
sejak kecil” jawab Joey. Mukaku masih cengo melihat Joey dan Ryan dalam satu
ruangan dan saling mengenal. Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul seorang cowok
berambut keriting dan setengah pirang “oh, hey, aku tidak tau kalau kita punya
tamu. Aku Ollie” kata cowok itu. “Ay, ingat tujuanku ke London?” tanya Joey,
aku menggelengkan kepala “ya.. aku waktu itu mencari manager untuk membuatku
menjadi penyanyi, lalu aku diterima asal aku masuk ke dalam suatu boyband..
jadi inilah boybandnya.. Overload” jelas Joey “okay..... aku pikir aku butuh
udara segar untuk meluruskan semua ini” kataku meninggalkan ruangan.
Kepalaku
terasa sangat berat seperti ingin jatuh, saat ku keluar gedung aku lihat Lia
lari kearahku “Ay!! Aku tidak ingin marah! Tapi serius deh, kamu
hilang-hilangan terus!!!” bentak Lia menarik lenganku. Lalu tiba-tiba aku
mendengar Joey memanggil namaku keluar dari gedung, sementara sekitar situ
penuh dengan para fans. Begitu melihat Joey keluar gedung, para fans langsung
teriak kegirangan. Teriakan para fans membuat kepalaku semakin berat dan sinar
matahari yang terik membuat keadaan lebih buruk. Joey menyuruhku dan Lia lari
sebelum diserbu para fans. Aku lari sebisaku dan lama-kelamaan penglihatanku
mulai kabur and akhirnya aku terjatuh pingsan. Aku merasakan ada seseorang yang
menggendongku, tapi kesadaranku mulai hilang.
Aku
terbangun di suatu ruangan.. ruangan yang tidak asing.. aku masih dapat
mendengar suara fans berteriak. Aku kembai berbaring dan memejamkan mata karena
kepalaku masih terasa sakit. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan
kudengar Joey, Ollie, Ryan dan Jordi memasuki ruangan “haaaaa..... mereka
gila.. tadi itu sangat keren sekali” kata Ryan. Aku masih pura-pura tidur untuk
mendengarkan apa yang mereka ucapkan “apakah dia masih belum sadar?” kata Jordi
“kurasa belum” jawab Joey “yah.. tidak heran, teriknya matahari tadi siang dan
mengetahui kalian berdua dalam satu boyband yang sama? Dia pasti sangat stres”
tambah Ollie “aku akan keluar untuk meliat para fans diam-diam” kata Jordi “aku
ikut!!” tambah Ollie dan Ryan “kau ikut?” tanya Ollie pada Joey “hmm.. tidak,
aku disini saja” jawab Joey. Aku mendengar pintu ditutup.
“bangun
Ay, mereka sudah pergi” kata Joey. Aku membuka mataku dan memperhatikan Joey
yang sedang minum. “bagaimana kau selalu tau kalau aku sudah bangun?” tanyaku
“aku mengenalmu sejak kecil, jadi aku tau gerak-gerikmu Ay” jawab Joey santai
“kenapa kau membangunkanku saat mereka sudah pergi?” tanyaku lagi “aku tau kau
ingin mendengar ucapan Ryan tentangmu kan?” jawab Joey sambil membuka cemilan
di sebelahku. Aku memandanginya dengan heran “Ryan cerita padaku.. kenapa kau
tidak pernah ceritakan ini padaku Ay?” kata joey yang duduk di sebelahku
persis. “a.. aku tidak tau Joey.. itu terjadi begitu cepat sampai akhirnya dia
meninggalkan ku” jawabku dengan mata berkaca-kaca “Ay, Ryan sangat
menyayangimu.. saat ia pergi, dia takut memberi tahumu dan sementara dia harus
pergi.. jarang ada penawaran pekerjaan datang padanya seperti ini.. tanpa
kusadari sebenarnya dia sering membicarakan cewek yang dia sangat sukai..
bodohnya aku tidak menyadari kalau cewek itu kau” ucap Joey sambil merangkulku
“kau tau siapa yang membawamu ke sini?” tanya Joey, “kau?” tebakku “bukan.. Ryan
yang mengangkatmu” jawab Joey. Wow dia tidak pernah melakukan itu padaku. Dia
bukanlah tipikal cowok yang senang melakukan itu, tapi.... “entahlah Joey..
kurasa ini tidak benar” aku membalasnya “percayalah.. dia lebih baik dari
diriku dulu” jawabnya sambil ketawa. Aku pun baru teringat kalau dulu aku
pernah berpacaran dengan Joey. Aku tertawa bersamanya mengenang masalalu. “kau
pikir dia orang yang tepat?” Tanyaku pada Joey “ya.. aku yakin begitu” jawab
Joey tersenyum.
“terimakasih
Joey” kataku sambil bangun “hey.. kau ingin kemana?” tanya Joey heran “aku
sebenarnya masih menyukai Ryan dan aku takut.. tapi sekarang kau membuatku
berani lagi. Aku akan mekatakannya pada Ryan!” kataku semangat “sekarang? Tapi
dia sekarang.......” kata-kata Joey terpotong karena aku meninggalkannya. Aku
mencarinya di segala tempat, sampai akhirnya tertemu. Aku langsung lari dan
memeluknya dari belakang.
“AY!” Ryan berteriak karena
kaget. “maaf Ry, aku menyukaimu, aku hanya takut kau akan meninggalkanku lagi”
ucapku sambil menangis dipelukannya. “tidak apa Ay.. justru aku yang minta
maaf, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi tanpa kabar” jawab Ryan
memeluku erat. “apakah ini artinya kau menjadi pacarku lagi?” tanya Ryan “lagi?
Hubungan kita tidak pernah putus dari dulu Ry” jawabku tersenyum. Ryan
menciumku dengan sangat bahagia. Tanpa kami sadari tiba-tiba tiranya terbuka
dan para fans pun langsung berteriak iri. Tapi Ryan tidak mempedulikannya dan
menciumku lebih lama lagi.